|
Sayang kendati ikan laut mengandung nilai gizi tinggi, Dr. I Ketut Suwetja, peneliti pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi, Manado, menganggap konsumsi ikan masyarakat Indonesia masih di bawah kebutuhan konsumsi ikan minimal 30 kg/kapita/tahun. Padahal ikan laut selain mengandung kalori yang lebih rendah juga bernilai gizi lebih tinggi.
Potensi sumber daya perikanan sebenarnya cukup besar. Diperkirakan tak kurang 4.000 jenis ikan hidup di perairan Indonesia. Dari sejumlah itu + 3.000 jenis hidup di laut, sedang sisanya hidup di perairan tawar atau payau. Sayang, hanya sebagian dari potensi tersebut yang telah dimanfaatkan. Rendahnya teknologi perikanan lantaran terbatasnya fasilitas pemanfaatan, penanganan, penyimpanan, pengolahan, distribusi menjadi kendala meningkatkan konsumsi ikan masyarakat. Padahal pemerintah juga telah mencanangkan program tiada hari tanpa makan ikan, yang dipercaya akan dapat meningkatkan kesehatan dan kecerdasan bangsa.
Peneliti asal Bali ini juga menyatakan, hasil laut yang dapat dimanfaatkan amat beragam. Mulai dari ikan, kerang-kerangan, cumi, udang, kepiting, teripang laut, landak laut, ubur-ubur, dan rumput laut.
Masih banyak keuntungan lain dengan mengkonsumsi ikan karena setiap bagian tubuhnya bisa dimakan. Kita simak fakta berikut ini: - Daging putih mengandung asam lemak tak jenuh omega-3 dan protein yang berisi asam amino taurin dan sepuluh jenis asam amino esensial.
- Daging merah mengandung asam lemak tak jenuh omega-3, protein, vitamin A dan B.
- Kulit mengandung vitamin A dan B2.
- Tulang mengandung mineral, terutama kalsium dan fosfor.
- Isi perut mengandung vitamin dan mineral.
- Kepala dan mata mengandung polisakarida yang berperan dalam kelembutan kulit dan pembuluh darah.
Semua itu dapat memberikan keseimbangan nilai gizi bagi mereka yang rakus ikan. Ada baiknya masyarakat memanfaatkan kekayaan ikan yang bernilai gizi tinggi itu.
(Dr. I Ketut Suwetjaya, peneliti Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi) Sumber: Intisari - Februari 1998
|