|
Page 1 of 2 Mengail Gepokan Doku Dari Jualan Ikan-Ikan Beku
Peluang Menjadi Agen Penjual Ikan dan Seafood Beku Depo Ikan Nyaris tanpa pesaing, gerai penjaja ikan seafood beku ritel Depo Ikan kini gencar menawarkan peluang keagenan. Agen cukup menyediakan modal Rp 10 juta. Dengan margin +/- 15%, sang agen bisa balik modal dalam beberapa bulan.
 Ikan boleh jadi salah satu bahan belanjaan pokok hampir seluruh keluarga di Indonesia. Maklum, selain rasanya yg gurih & lezat, lauk ikan juga memiliki kandungan protein & gizi tinggi, namun kadar lemaknya lebih rendah ketimbang daging.
Sayangnya, orang kadang agak enggan belanja ikan, apalagi di pasar tradisional. Maklum, pasar ikan tradisional biasanya memang berbau amis & becek.
Lalu, bagaimana jika ikan dijual dalam kondisi bersih di tempat yg nyaman, tanpa bau amis & tanpa becek, dan dekat pula dengan dengan rumah pelanggan? Inilah yg ditawarkan pengusaha bernama Patrick Wirya Widjaja, lewat gerai Depo Ikan miliknya.
Tepatnya, 27 November 2005, Patrick membuka gerai Depo Ikan pertama di rumahnya sendiri. Bermodal sebuah freezer berukuran 600 liter, Patrick mulai menjajakan ikan & seafood segar yg sudah dalam keadaan beku (fresh & frozen).
Meski ikan & seafood dagangannya sudah beku & nongkrong cukup lama di mesin pendingin, Patrick menampik ikan-ikan tersebut sudah tak segar. "Kami jamin produk-produk yg dijual di Depo Ikan segar." ujar Patrick dengan nada promosi.
Dia memaparkan, kesegaran ikan jualannya terjamin lantaran metode pembekuannya tak sembarangan. Sesaat setelah ditangkap, ikan & hewan laut lainnya langsung dimasukkan ke mesin pendingin. Setelah dibersihkan, ikan dibekukan pada suhu minus tertentu. Dengan cara itu, kata Patrick, kesegaran ikan terjaga.
Dengan konsep fresh & frozen, pada bulan keempat, Patrick sudah harus menambah 2 unit freezer. Kini dia sudah memiliki gerai besar di sebuah ruko di daerah Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, plus memiliki sebuah mesin pendingin (cold storage) besar.
Patrick pun sudah memperluas jaringan pemasarannya dengan sistem keagenan. Saat ini Depo Ikan telah memiliki 43 agen yg tersebar di Jakarta, Tangerang, Bogor, Bandung & Semarang. "Sebagian besar agen saya tadinya adalah pelanggan Depo Ikan," ujar Patrick.
Modal Sekitar Rp 10 Juta Juga Sudah Cukup.
Lantaran pasarnya yg memang sangat besar, sampai saat ini Depo Ikan masih agresif menawarkan peluang keagenan. Syarat utamanya, si calon agen harus beroperasi di lokasi yg strategis. "Kami lebih mengarah pada kompleks perumahan menengah ke atas," kata Patrick. Untuk daerah perumahan yg tak begitu besar, Depo Ikan mematok cukup memiliki 1 agen. Untuk perumahan yg wilayahnya luas, agennya bisa lebih dari 2.
Soal tempat usaha, si agen tidak memerlukan tempat khusus. Sebab, dia bisa menjalankan usaha ini di rumahnya sendiri. Si mitra cukup menyediakan tempat untuk menaruh freezer untuk menyimpan ikan-ikan dagangannya.
Selanjutnya, Patrick akan menyeleksi calon untuk memastikan komitmen si agen dalam mengembangkan bisnis tersebut. "Kami akan menanyakan strategi bisnisnya," ujar Patrick.
Bila semua beres, si calon agen bisa mempersiapkan modalnya. Lantaran ini penawaran keagenan, si mitra tak perlu membayar biaya awal seperti biaya waralaba, joining fee, atau initial fee. Si mitra juga tak perlu membayar biaya royalti saban bulannya.
Si agen cukup menyediakan modal untuk membeli 1 mesin pendingin alias freezer berukuran 600 liter. Harganya sekitar Rp 4,5 juta - Rp 5 juta se unit.
Dus, agen juga harus menyediakan modal awal untuk membeli barang dagangan pada Depo Ikan pusat. Untuk ini, Depo Ikan memang memasang batasan pembelian minimal. Untuk pembelian awal, Depo Ikan mengharuskan si agen membeli berbagai jenis ikan beku senilai minimal Rp 5 juta. Oh ya, saat ini Depo Ikan menjual 100 jenis ikan & seafood beku.
Bisa Balik Modal Dalam Tempo 3 Bulan
Untuk pembelian selanjutnya, Depo Ikan mematok pembelian agen minimal Rp 10 juta per bulan. Si agen pun tak bebas memilih jenis ikan, melainkan diminta membeli berbagai jenis ikan.
Bila pembelian ikan si agen setiap bulan kurang dari Rp 10 juta, Depo Ikan akan menegur si agen. Bila penjualannya tak juga membaik, Depo Ikan berwenang menutup agen tersebut.
Untuk mendorong penjualan para agen, Depo Ikan pusat berjanji melakukan promosi. Pada awal pembukaan gerai, agen akan mendapat spanduk & brosur. Setiap bulan Depo Ikan pusat juga akan beriklan di berbagai media massa, baik yg berskala lokal maupun nasional.
Tugas si agen selanjutnya adalah mengelola gerainya. Untuk itu si agen bisa merekrut karyawan. Menurut seorang agen Depo Ikan di Pasar Modern BSD, Justina, satu gerai cukup mempekerjakan 2 karyawan. Satu bertugas menunggui gerai, satu lagi melayani pesan-antar.
Untuk memperluas pasar, selain menanti pembeli yg datang ke gerai, si agen sebaiknya juga menjajaki kemungkinan menjadi pemasok kebutuhan katering, restoran, atau hotel.
Patrick yakin, si agen tak terlalu sulit mencapai target pemesanan ikan minimal Rp 10 juta. "Apalagi Depo Ikan menyediakan pilihan ikan yg jauh lebih banyak. Sebut saja ikan dori yg asal Vietnam atau salmon yg memiliki gizi tinggi," paparnya.
Justina contohnya. Saat ini dia rata-rata berhasil mencetak omzet di atas Rp 10 juta per bulan. Bahkan, kata Patrick, ada agennya yg omzet per bulannya mencapai Rp 50 juta.
Dengan margin keuntungan sekitar 15%, menurut hitungan Patrick, para agen bisa balik modal dalam waktu sekitar 3 bulan. "Ya, saya sendiri yakin bisa balik modal paling lama dalam 1 tahun," timpal Justina, yakin.
Sumber: Tabloid KONTAN No.4-XII - Rubrik Usaha - Minggu IV, Oktober 2007 oleh Dwin Gideon Sitohang. Foto: KONTAN - Achmad Fauzie
<< Start < Prev 1 2 Next > End >> |